Anies Baswedan: Nenek Saya Seorang Pejuang Gigih

Barkah Ganis, Nenek dari Mas Anies Baswedan, adalah sosok perempuan yang selalu dikaguminya. Banyak nilai-nilai ajaran Nenek Barkah yang menginspirasi Mas Anies.

Mas Anies Baswedan bercerita mengenang sosok neneknya yang bernama Barkah Ganis. Sejak kecil, Mas Anies dekat dengan neneknya. Hingga usianya dewasa, Mas Anies sering mendengar tentang kisah neneknya, perempuan pertama di Tegal yang bersekolah. Mas Anies menceritakan berbagai hal tentang sosok perempuan yang sangat dikaguminya itu.

Suatu hari, Barkah dan teman-teman perempuannya memutuskan untuk mengikuti kongres perempuan yang diadakan di Yogyakarta. Di masa itu, kendaraan dari Tegal ke Yogyakarta hanya kereta api. Mendengar rencana ini, pihak intelijen Belanda berusaha memboikot mereka.

Bukannya menyerah, Barkah dan teman-temannya justru protes dengan berbaring di rel depan lokomotif! Mereka tidak beranjak sebelum diizinkan berangkat ke Yogyakarta. Akhirnya pihak Belanda menyerah dan memberangkatkan mereka.

“Ini dahsyat. Nenek Barkah bukan sekedar bergerak saat usianya sudah tua, tetapi di masa mudanya sudah ikut kongres perempuan,” kata Mas Anies.

Mas Anies bercerita bahwa sejak muda, neneknya antikomunis. Dia berperang melawan Gerwani. “Tingkat antikomunisnya 2000-3000%. Pernah Nenek melarang saya main ke sebuah kampung. Dia tidak menyebutkan alasannya. Saya enggak ngerti dan tetap main,” kata Mas Anies. Setelah duduk di kelas 2 SD, Anies baru menyadari bahwa laki-laki dewasa di kampung itu hampir seluruhnya di tahan di Pulau Buru.

Mas Anies mengenang suatu cerita yang tak terlupakan. Pada tahun 1955, neneknya berkeliling Indonesia, singgah di berbagai tempat untuk berkampanye agar semua perempuan menggunakan hak suara. Di zaman itu, ada anggapan bahwa pemilu hanya untuk kaum laki-laki saja.

“Mari perempuan keluar rumah dan nyoblos, karena kita punya hak yang sama,” tutur MasAnies menirukan ucapan neneknya.

Mas Anies mengenang sosok neneknya sebagai perempuan pejuang yang sangat tegas dan berani. Di rumahnya, Barkah disegani anak-anaknya. “Di rumah ada peraturan unik untuk kesepuluh anaknya. Laki-laki tidak boleh ke dapur, tetapi mereka harus belanja ke pasar,” ujar Mas Anies sambil tersenyum.

Secara bergantian, setiap selesai sholat shubuh semua anak laki-laki Barkah belanja bahan makanan ke pasar. Daftar belanjanya dibuat oleh anak-anak perempuan. Siangnya anak perempuan memasak.

“Ini dijalankan dengan super tegas. Jadi anak laki-laki tidak ada yang terampil masak, tetapi tahu harga bahan makanan,” cetus Ayah empat anak ini.

Nenek Barkah adalah seorang aktivis sejati. Dia sering memimpin gerakan-gerakan perempuan, bahkan ikut menyusun Undang-Undang tentang Hak Perempuan Dalam Peradilan Agama. Barkah adalah ibunya teater dan seniman di Yogyakarta, dia juga ibu dari pergerakan Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam ((HMI) di Yogyakarta. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk berbagai aktivitas pergerakan.

Hingga usia senja, Barkah masih aktif mengikuti perkembangan Indonesia. Dia rajin membaca koran, mendengar berita, dan berjuang terus meskipun sudah duduk di kursi roda. Barkah meninggal pada usia 94 tahun. Sebagai cucunya, Mas Anies memiliki semangat perjuangan dan pergerakan yang sama. Mas Anies selalu menjadikan neneknya sebagai teladan dalam menjaga semangat perjuangan.