Empat Keunggulan Anies Baswedan

Oleh: Afifah Afra

Sebentar lagi, Pilkada Serentak akan berlangsung di seluruh Indonesia. Gaung Pilkada terasa di mana-mana. Solo ikut kena getarnya, meski jatah pilkada Solo masih empat tahun lagi. Wajar saja, salah satu yang ikut Pilkada Serentak tahun ini adalah DKI Jakarta, ibu kota negara. Apalagi, calon-calon yang bertanding di Jakarta pun semua berkualitas, baik yang maju, maupun bekingnya. Kasak-kusuk ibu-ibu di kampung, yang sedang bertarung di ajang Pilkada di Jakarta sebenarnya bukan Agus, Ahok dan Anies, tetapi SBY, Megawati dan Prabowo. Mungkin ada benarnya juga. Sebab, pada Pilkada Jakarta, seluruh parpol pendukung tampak betul tengah mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya.

Okay, Gaes... back to title, ya. Karena terus terang saya adalah penggemar Pak Anies, dalam kesempatan ini saya ingin meyakinkan teman-teman untuk pilih Pak Anies. Ehm! Yah, meski bukan warga Jakarta, jika gubernur Jakarta terpilih adalah pilihan saya, tentu bangga juga kan? Nah, apa sih sebenarnya keunggulan beliau?

 

Positive Leadership

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca berita khas di sebuah koran nasional tentang pengiriman para guru Indonesia Mengajar ke daerah terpencil. Saya ternganga, karena guru-guru yang dikirim ke daerah-daerah tersebut ternyata anak-anak muda dari universitas ternama dalam bahkan luar negeri. Ada yang sengaja resign dari pekerjaannya di perusahaan besar dan bergaji selangit. Ya, mereka anak-anak muda hebat!

Maka, pertanyaan saya kemudian berganti, siapa yang mampu menggerakkan mereka sehingga mau melakukan perubahan luar biasa tersebut? Tentu sang leader.

Menurut saya, Pak Anies memang tipikal leader yang menganut positive leadership. Ada beberapa cara seorang leader dalam menggerakkan anak buah. Paling rendah adalah dengan punishment, alias menakut-nakuti dan mengancam. Nah, salah satu paslon pesaing Pak Anies, saya lihat ada yang tipenya menggunakan cara ini. Maki-maki, marah-marah, mutasi dan sebagainya. Ada yang bilang, itu cocok buat Jakarta. Menurut saya, Jakarta itu kan juga dihuni manusia, maka, gunakan pendekatan manusialah...  Setiap orang pasti punya rasa enggan dimaki. Kalaupun bergerak, asalnya bukan dari hati, keterpaksaan saja. Setiap menemukan celah lepas, dia akan merasa lega serasa longgar bernapas.

Di atas itu, pemimpin yang menggerakkan dengan reward atau penghargaan. Cara ini menurut saya selangkah lebih baik. Tetapi, tetap saja akan membuat orang hanya mau bekerja jika ada reward, jika tidak, akan malas.

Cara yang paling baik adalah bagaimana seorang pemimpin bisa menanamkan value kepada anak buah, sehingga terbangkitkan kesadaran dan rasa cintanya kepada tugas yang dia emban. Cara ini membutuhkan soft skill dan leadership kelas paus, dan saya melihat Pak Anies memiliki hal ini.

 

Positioning Himself as a Bridge

Saya amati melalui media sosial, Pak Anies mencoba memposisikan diri sebagai jembatan yang menghubungkan dua kubu yang sama-sama ekstrim. Cara Pak Anies merespon kritikan-kritikan dalam serangkaian video “Membaca Tweet Jahat” yang penuh humor cerdas, memperlihatkan mentalitas Pak Anies yang santai, tak mudah terpancing emosi dan punya selera humor tinggi.

Ya, di tengah bangsa yang hampir terbelah, yang kita butuhkan adalah jembatan.

 

Berorientasi Pembangunan Manusia

Ada dua tipe pemimpin, yakni pemimpin yang meninggalkan monumen-monumen besar, dan pemimpin yang meninggalkan visi yang kuat yang dilanjutkan oleh para kader-kadernya. Pemimpin monumen lebih berorientasi pada pembangunan fisik. Firaun, Nebukhadnezar adalah contoh pemimpin monumen, yang dikenang karena bangunan fisik yang ditinggalkan. Sedangkan Rasulullah Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin adalah pemimpin yang meninggalkan visi, sehingga ajarannya terus dikenang dan diamalkan sepanjang masa.

Ciri khas pemimpin visioner adalah orientasi yang kuat pada pembangunan manusia. Bagaimana agar manusia bisa berfungsi “utuh”, kongruen (sebangun) antara real self dengan ideal self—sebagaimana teori Carl Rogers, atau telah mencapai aktulisasi diri—sebagai mana teori Maslow.

Dari jejak panjang yang ditoreh Anies Baswedan, terlihat betul bahwa beliau memang lebih berorientasi pada pembangunan manusia. Ya, apa arti kota megah standar internasional jika para penduduknya masih bermental zaman batu, bukan?

 

Intelek dan Cerdas Berliterasi

Ini dimensi yang paling kentara dari beliau.  S1 di UGM, lalu melanjutkan di University of Maryland dan Northern Illinois University hingga meraih P.Hd, dan menjadi rektor pada usia 38 tahun, ini sungguh keren. Beliau juga rajin menulis dan suka membaca, dan bahkan mendapat IKAPI Award 2016 dengan kategori  Literacy Promoter. Penghargaan itu diberikan oleh Ikatan Penerbit Indonesia kepada seseorang yang dinilai aktif menggalakkan budaya membaca.  


Nah, itu beberapa kelebihan Pak Anies menurut kacamata saya. Dengan kelebihan semacam itu, Pak Anies sangat cocok memimpin kota terbesar di Indonesia, agar Jakarta tak hanya megah secara fisik, tetapi juga bisa berkembang menjadi pusat peradaban dunia.

Hm, sebenarnya, masih ada satu lagi kelebihan beliau, yaitu GANTENG. Tapi, saya takut dijitak suami jika menuliskan hal ini.

Jadi, mengapa tidak pilih Anies Baswedan?


Sumber: http://www.afifahafra.net/2017/01/empat-keunggulan-anies-baswedan.html

BERI DUKUNGAN SEKARANG

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno adalah pasangan nomor urut 3 pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Mari dukung Anies Sandi untuk bersama membangun Jakarta yang maju dan bahagia warganya.