Pandji Pragiwaksono: You tell me

Hanya karena anda & saya untuk pertama kalinya memilih orang yang berbeda lalu saya dianggap berubah?

Saya masih merasa nggak enak sampai hari ini

Kalau ingat apa yang saya lakukan dulu waktu shooting program Sebelas12.

Salah satu bintang tamu kamu menyebut dirinya sebagai Coffee Anthusiast. Senang kopi, senang nongkrong di kafé, punya sejumlah kafe favorit dan senang ngobrolin kopi. Lalu pada satu kali kesempatan kami meminta dia untuk melakukan Coffee testing. Satu kopi disuguhkan dalam cangkir cantik. Yang satu di gelas plastik, seperti Aqua gelas. Kemudian saya minta dia minum untuk memberi tahu mana yang menurutnya lebih enak.

Dia mencoba keduanya, berpikir sejenak, lalu menjawab yang di cangkir lebih enak.

Kemudian saya memberi tahu dia…. Bahwa dua duanya sama sama datang dari kopi sachetan yang sama.

Mukanya langsung berubah. Mungkin malu. Saya katakan bahwa ini bukan salah dia, tapi kadang memang penilaian kita sering kali terganggu objektivitasnya. Istilahnya: Bias.

Bias adalah sesuatu yang sering terjadi. Dimaklumi, walaupun tidak bisa dibenarkan. Bias sering juga disebut favoritism, partisanship. Kesukaan kita dengan sesuatu atau seseorang yang pada akhirnya menggugurkan kebenaran yang ada di depan mata, kehilangan objektivitas.

Sering kali terjadi perdebatan antara penggemar sepakbola akan apa yang merupakan pelanggaran dan yang tidak. Misalnya kasusnya adalah pelanggaran oleh pemain ManUtd kepada pemain Persisam di kotak penalti ManUtd. Kejadian yang dilihat sama, tapi opini bisa berbeda. Kedua sisi, bisa saja bias menilai pelanggaran tersebut.

Bias sering kali terjadi pada brand. Apple adalah brand yang kuat. Sering kali anda tidak bisa mendebat fanboy Apple dengan objektif. Mau anda debat seperti apapun, fanboy akan membela mati matian. Saya gak merasa itu serta merta hal negatif, karena itu juga berarti kesuksesan brand Apple telah melahirkan orang orang yang begitu mencintai mereka.  Hal serupa, sering kali terjadi di dunia politik.

Politik dan pilihan politik sering kali membuat orang bias.

Mari kita ambil contoh apa yang terjadi kepada Pak Tifatul Sembiring.

Semua orang tahu hubungan saya dengan beliau. Saya pernah iseng mention beliau “Pak folbeq eaaa” lalu saya tinggal tidur siang. Pas bangunn, tiba tiba tweet saya trending topic world wide. Saya skarang diblok di twitter oleh beliau tanpa pernah mengerti alasannya apa.

Suatu hari, jagad twitter ramai karena satu buah tweet dari Pak Tif yang saat itu masih menjabat sebagai Menkominfo “Tweeps yang budiman? Internet cepat buat apa?”

Sejak hari itu hingga hari ini, orang sering menyindir Pak Tif dengan ucapan ini yang diartikan seakan akan dia mempertanyakan “Buat apa sih punya internet cepat? Kayak ada gunanya aja”

PADAHAL, tweet tersebut adalah bagian pembuka dari rangkaian tweet yang panjang. Setelah tweet tersebut, dia sebenarnya menjelaskan bahwa internet cepat itu utk blablablabla. Dia menjelaskan pentingnya internet cepat.

TAPI, karena orang udah keburu gak suka, mereka BIAS penilaiannya terhadap Pak Tif. Sebenarnya tweet pembuka tersebut tidak beda dengan misalnya guru di depan kelas membuka diskusi dengan “Anak anak, internet cepat untuk apa? Ada yang tahu?” lalu dilanjutkan dengan “Jadi, internet cepat dibutuhkan agar kita bisa lebih mudah mengakses informasi, dst dst dst.”

Saya tidak suka dengan Pak Tif. Di banyak kesempatan kami tidak sejalan cara pandangnya. Tapi saya harus adil dan berkata bahwa dalam hal ini, dia tidak salah. Saya tidak boleh bias.

 

Pilkada, penuh dengan orang orang bias. Selama anda partisan, maka peluang biasnya ada.

Termasuk saya. Itulah yang saya sangat khawatirkan. Setidaknya saya mengaku bahwa saya mungkin saja penilaiannya bias. Entah orang lain.

Orang yang terbutakan cinta, dari luar tampak seperti orang gila. Dengan politik, sama halnya.

Saya berusaha untuk tidak bias dengan mencoba secara objektif melihat data dan situasi. Sering kali saya bertanya kepada Istri saya yang memang non partisan. Supaya dari luar tidak terlihat mengada-ada seperti orang gila. Dalam usaha saya menghindari bias, saya sadar bahwa semuanya sangat tergantung kepada keinginan saya menerima dan menyerap segala macam fakta.

 

Ini jadi penting, karena banyak orang bilang saya berubah karena pilkada.

Which is funny, coz I think, they changed instead of me.

 

Ketika Duterte yang ngomong seperti ini, orang orang di socmed langsung bereaksi.



Namun ketika Pak Basuki yang bicara seperti ini, kenapa mereka diam?




Silakan baca artikelnya di sini

Ketika Reklamasi Bali, semua orang bahkan kebanyakan seniman bereaksi.

Ketika Reklamasi Jakarta, mengapa semua orang diam?

Berani beraninya pula menjawab “Emang di sana masih ada nelayan?”

Kalau orang naik pesawat mau balik ke Jakarta, sebelum mendarat coba tengok ke luar jendela dan lihat ke bawah. Pulau pulau reklamasi itu bisa anda lihat bentuknya. Bisa anda bayangkan dampak ekologisnya. Dan bisa anda lihat perahu perahu nelayan yang ada di situ.

Berani beraninya bilang reklamasi mengurangi banjir padahal menutup pulangnya air belasan sungai ke laut.

Amdal belum ada tapi dari udara sudah kelihatan bangunan bangunan yang diperuntukkan untuk komersil. Kok bisa? Buat siapa? Yang diuntungkan siapa?

Ketika Foke yang merelokasi paksa semua orang bereaksi. Saya ingat betul karena waktu itu relokasi paksa adalah isu yang kami angkat ketika mendukung Bang Faisal Basri. Saya ingat siapa saja yang menentang.

Ketika Pak Basuki yang relokasi paksa sehingga warganya menolak. Mengapa mereka diam?

Mas Anies dibilang tidak bisa kerja?

Kalau tudingannya adalah Mas Anies tidak bisa kerja, pada tahun 2015 sendiri, penyerapan anggaran Kemdikbud itu nyaris 100%. Untuk yang belum tahu, kemampuan menyerap anggaran hingga setinggi itu harusnya berarti orang ini justru bisa kerja dengan efisien. Karena program didesain, anggaran diciptakan dan diajukan, lalu ketika datang tahun yang dimaksud, penyerapan nyaris 100% berarti apa yang direncanakan pada akhirnya dilaksanakan.

Yang aneh itu kalau ada orang sudah rencanakan, dia sudah minta anggaran sesuatu dengan yang dia rencanakan, sudah dia sepakati bersama DPRD, alias dia sudah liat angkanya, tidak ada lagi yang bisa nyempilin uang siluman, dan setuju sehingga dia tanda tangani, lalu realisasinya masih hanya 60%an.

Mau bilang serapan anggaran tidak penting? Kenapa ketika Pak Basuki serapannya rendah lalu dimarahi Pak Jokowi?



Nggak percaya Jokowi, skarang?

Kenapa?

You say I changed?

Me?

Anda lihat stand-up saya dari 2011 sampai sekarang. Anda dengar keresahan saya. Anda ikut berdiri bertepuk tangan. Anda tahu persis di mana saya berdiri.

Saya masih membela suara orang orang yang tidak anda dengar. Suara orang orang yang berkata bahwa masalah utama mereka di Jakarta bukanlah macet dan banjir.

Masalah mereka adalah pendidikan.

Masih banyak anak anak yang tidak bisa sekolah, karena mereka tidak mendapatkan manfaat dari KJP. Karena KJP yang tidak bisa diuangkan hanya bisa untuk orang yang sudah bersekolah. Lalu Mas Anies mau kasih KIP supaya anak anak tidak bersekolah ini bisa dibantu supaya bisa sekolah lalu ditolak.

Lalu saya harus apa? Diam? Pura pura mereka tidak ada? Tidak membantu mereka memperjuangkan hak atas pendidikan yang jadi impian mereka?

Banyak anak anak usia SMA yang tidak bersekolah di Jakarta.

Lalu kita ngomel melihat mereka tawuran, jadi bagian dari peserta demo bayaran, lalu jadi penonton bayaran di acara televisi. Lah mau dibantu dikasih pendidikan tapi ga dikasi sama Gubernurnya.

Masalah mereka adalah uang yang mereka punya berbanding dengan harga di sekitar. Ada 3.5 juta warga jakarta yang penghasilan perbulannya di bawah Rp 1 juta. Anda bisa hidup dengan sekitar 30 ribu per hari sementara harus menghidupi anak dan istri?

Nelayan karena sedikit dianggap tidak penting suaranya sehingga tidak apa membangun pulau dan melabelinya reklamasi. Itu bukan reklamasi. Reklamasi itu BUKAN membangun pulau.

Come on. You know this.

Orang orang ini tidak anda dengar keresahannya di social media. Lalu karena mereka tidak terdengar keluhnya oleh anda, lalu dianggap mereka tidak ada?

 

Saya berbicara untuk mereka.

Saya selalu berbicara untuk orang seperti mereka.

 

I changed?

Are you sure?

Hanya karena anda & saya untuk pertama kalinya memilih orang yang berbeda lalu saya dianggap berubah?

I changed? Or you’re biased?

BERI DUKUNGAN SEKARANG

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno adalah pasangan nomor urut 3 pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Mari dukung Anies Sandi untuk bersama membangun Jakarta yang maju dan bahagia warganya.