Plintiran soal Sumpah Pemuda dan Anies Baswedan

Fitnah lagi. Plintiran lagi.

Kali ini yang diplintir pidato dan diskusi Anies Baswedan dalam sarasehan di sekretariat FPI. Videonya pun ada di youtube.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Anies sedang berbicara dalam forum yang diselenggarakan oleh organisasi yang banyak pihak menuduh sebagai organisasi yang keras. Sebagian pihak di luar sana mungkin beranggapan FPI itu anti Pancasila dan anti NKRI.

Di depan forum itu Anies menceritakan sejarah keturunan Arab di Indonesia, sebagiannya adalah warga yang hadir saat itu. Pesannya jelas: bahwa keturunan Arab sikapnya final tentang Indonesia, setia pada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan itu warisan dari para leluhur mereka di Indonesia puluhan tahun lalu.

Anies tidak menegasikan soal Sumpah Pemuda 1928. Bahkan soal ini pun Anies malah menulis jauh hari sebelumnya di Kompas 27 Oktober 2008 di link ini.

Yang mungkin tidak disadari oleh para 'plintirer' ini adalah fakta bahwa memang pada masa itu Asia sedang dalam pergolakan. Yaman atau Hadramaut bergolak, demikian pula berbagai negara lain. Sebagian penduduk yang bermigrasi menetap, sebagian pula kembali ke negara asalnya.

Pada tahun 1934 kepastian masa depan Republik Indonesia masih samar. Bagi keturunan Arab asal Yaman atau Hadramaut dan keturunan bangsa non pribumi kala itu punya beberapa pilihan: mendukung Indonesia atau Belanda. Dan tiap pilihan ada resikonya. Para perintis Partai Arab Indonesia itu justru menghapus pilihan mendukung Belanda dan pilihannya cuma satu: mendukung Indonesia. Dan memang itu satu-satunya tujuan dari pendirian PAI ini sehingga ketika Indonesia merdeka, PAI kemudian dibubarkan. Dan itu juga berarti mereka menghapus pilihan kembali ke negara asal.

Anies tidak sedang membandingkan atau menegasikan kaum pribumi yang sedang sama-sama berjuang melawan Belanda. Atau bahkan juga tidak membandingkan dengan kaum keturunan Tionghoa yang menghadapi dilema yang sama. Anies tidak membandingkan dengan Liem Koen Hian, anggota BPUPKI sama seperti AR Baswedan dan pendiri Partai Tionghoa Indonesia pada 1932, yang belakangan pada 1952 melepaskan kewarganegaraan Indonesia dan menjadi warga negara Tiongkok kembali.

Anies tidak menegasikan jasa-jasa pejuang lainnya. Ia sedang mengingatkan kaum keturunan Arab --termasuk FPI-- bahwa NKRI adalah harga mati.