Sandi dan Tahapan Masa Kecil yang Tuntas

Erwyn Kurniawan, yang pernah berkesempatan mewawancarai Sandiaga Uno tahun 2008, terkesan dengan sikap dan perilaku Sandiaga.

Ketika nama Sandiaga Uno mencuat ke publik untuk menjadi Calon Wakil Gubernur (Cawagub) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, saya merasa menjadi orang yang paling beruntung. Saya pernah bertemu dengannya, bukan cuma perjumpaan sekilas layaknya seorang penggemar dengan pujaannya.

Sekitar awal tahun 2008, saya berkesempatan mewawancarai secara khusus Sandiaga Uno di kantornya. Pengusaha muda sukses itu menjadi salah satu tokoh yang kisah hidupnya akan dimuat di majalah ESQ 165 Edisi 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Saya yang waktu itu menjadi redakturnya, sunguh terkesan dengan sikap dan perilaku Sandiaga sepanjang wawancara.

Sandiaga begitu cerdas, humble, bersahaja, murah senyum. Tak ada arogansi atau keangkuhan sedikitpun dari sikap yang dia perlihatkan. Dan yang paling berkesan adalah tutur katanya yang santun, teratur, runut dengan intonasi yang menyejukkan siapapun yang mendengarnya.

Sesi wawancara eksklusif itu sungguh mengesankan dan terus terngiang hingga 8 tahun berjalan. Hanya ada satu penyesalan: saya tak foto bersama.


Sandi bagaikan oase di padang nan gersang saat kehidupan kita sekarang disesaki kata-kata makian nan kasar


Pengalaman bersua Sandiaga membuat saya teringat dengan Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D. Keduanya saya jumpai dalam acara Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini di Jakarta pada 2011. Menurut keduanya, ada empat tahapan penyelesaian konflik yaitu: Pasif (Passive), Serangan Fisik (Physical Aggression), Serangan Bahasa (Verbal Aggression), dan Bahasa (Language).

Tahapan pertama Pasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya.

Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul.

Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!”

Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya.

Sandiaga bagi saya sudah menuntaskan tahapan perkembangan masa kecilnya yang tercermin dalam penggunaan kata dan kalimat. Sandi sudah sampai pada tahapan Bahasa atau Language. Kita akan sulit mendengar kata atau kalimat kasar yang menyerang (verbal aggression) dari mulutnya. Dan itulah yang saya alami saat berjumpa dengannya.

Sandi bagaikan oase di padang nan gersang saat kehidupan kita sekarang disesaki kata-kata makian nan kasar. Baik yang datang dari pemimpinnya maupun para pengikutnya. Sandi hadir pada waktu yang tepat.

Erwyn Kurniawan