Serba-Serbi Macet Jakarta

Alasan terlambat datang karena macet, memang terdengar klise. Tetapi, begitulah kenyataannya. Kerugian akibat macet bisa mencapai jumlah Rp.88 trilyun. Fantastis, bukan?

Karena terbiasa, kita seringkali menganggap macet itu sebagai sebuah kewajaran. Padahal, tahukah Anda bahwa kerugian karena macet bisa mencapai Rp.88 trilyun? Bagaimana menghitungnya?

Kerugian karena macet tersebut merupakan opportunity cost, yaitu kehilangan waktu produktif karena macet. Misalnya, waktu tempuh normal seharusnya 30 menit. Tapi karena macet, durasi perjalanan menjadi 90 menit. Sehingga, opportunity costnya adalah 1 jam.

Hal di atas merupakan salah satu kesimpulan dari Netizen Gathering yang diselenggarakan di Pendopo Anies-Sandi, Kebayoran Baru, Jumat malam (02/12).

"Kalau dihitung dari UMR tiap jamnya, opportunity cost karena macet kurang lebih sebesar Rp.20.000 per orang. Kalau dihitung dari jumlah penduduk Jakarta yang mencapai sekitar 10 juta jiwa, tiap tahun kerugiannya bisa mencapai Rp. 88 trilyun. Dengan kata lain, kalau gaji Christiano Ronaldo adalah Rp. 1 trilyun, kerugian karena macet bisa membeli 88 Christiano Ronaldo, ujar Izzul Waro, pengamat transportasi yang juga menjadi Dewan Pakar Tim Pemenangan Anies-Sandi.

"Sebetulnya apa sih yang membuat Jakarta ini macet banget? Seperti apa sih kondisi transportasi saat ini?" Stand Up Comedian Pandji Pragiwaksono yang menjadi moderator acara tersebut memantik diskusi.

Merespon pertanyaan tersebut, Izzul memberikan penjelasan sebagai berikut. Pertama, masyarakat luas tidak dilibatkan dalam perencanaan program transportasi. Tahukah kamu, bahwa kita punya Dewan Transportasi Kota Jakarta dan juga Forum Lalu Lintas. Seharusnya lembaga-lembaga tersebut melibatkan masyarakat. Kenyataannya, tak banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan dua lembaga tersebut.

Kedua, Rancangan Besar Transportasi Jakarta lama tidak diperbaharui. UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengamanatkan evaluasi rancangan itu setiap 5 tahun. Dalam Perda Transportasi No.5 tahun 2014, Gubernur Jokowi telah memerintahkan Gubernur Jakarta berikutnya untuk membuat Perda Rencana Induk Transportasi selambat-lambatnya tahun 2016. Tetapi apakah dijalankan?

Ketiga, tidak adanya integrasi layanan antar transportasi umum. Selama ini pengadaan bus hanya fokus pada pembelian bus-bus besar. Sedangkan peremajaan dan revitalisasi bus sedang seperti Metromini dan Kopaja sangat lambat. Bahkan untuk angkutan umum seperti angkot, KWK, mikrolet, dan sejenisnya, akan dihapuskan oleh Gubernur Petahana. Keempat, tidak bertambahnya koridor busway yang telah direncanakan 15 koridor. Sementara yang baru beroperasi saat ini hanya 12 koridor.

Kelima, adanya rencana penambahan pembangunan enam tol dalam kota. Padahal kebanyakan perjalanan tol terjadi dari luar Jakarta. Dengan membangun ruas tol dalam kota justru makin menambah kemacetan. Keenam, tidak adanya regulasi yang membatasi jumlah kendaraan pribadi. Tahukah kamu, jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 13 juta. Dengan jumlah kendaraan yang melebihi jumlah penduduk, pemerintah malah membuat kebijakan yang memudahkan kepemilikan kendaraan bermotor.

Terakhir, yang paling utama adalah penataan transportasi bukan hanya pembangunan fisik infrastruktur saja. Transportasi merupakan sistem multidimensi. Selain membangun fisik, perlu juga didukung dengan kesiapan SDM yang handal. Misalnya, melibatkan pakar dalam membuat masterplan transportasi, pembinaan pengemudi angkutan umum, dan sebagainya.


BERI DUKUNGAN SEKARANG

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno adalah pasangan nomor urut 3 pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Mari dukung Anies Sandi untuk bersama membangun Jakarta yang maju dan bahagia warganya.